BAB I
PENDAHULUAN
Urtikaria adalah
suatu reaksi pada kulit yang timbul mendadak (akut) karena pengeluaran histamin
yang mengakibatkan pelebaran pembuluh darah dan perembesan cairan dari pembuluh
darah.
Dalam perjalanan
penyakitnya dikenal 2 macam urtikaria, yaitu : urtikaria akut yang timbul
mendadak dan hilang dengan cepat serta urtikaria kronis yang timbul
berulang-ulang atau berlangsung tiap hari selama lebih dari 6 minggu.
Urtikaria kronik ditandai dengan bengkak yang edema, diikuti dengan rasa gatal, papul atau plak pada kulit.
Urtikaria kronik ditandai dengan bengkak yang edema, diikuti dengan rasa gatal, papul atau plak pada kulit.
Masalah yang akan di bahas dalam makalah
ini meliputi :
1.
Bagaimanakah
konsep dasar penyakit urtikaria ?
Adapun
maksud dan tujuan penulisan Laporan pendahuluan ini adalah:
1. Memenuhi tugas mata kuliah Sistem imun dan haematologi
kepada penulis
2. Menambah dan memperluas pengetahuan tentang
penyakit urtikaria.
3.
Memberikan informasi kepada pembaca tentang penyakit urtikaria.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan berbagai sumber dengan
metode pustaka. Dengan metode ini, penulis dapat melengkapi makalah sesuai
dengan bahan – bahan yang penulis ambil dari buku – buku referensi sebagai
bahan pendukung dan pelengkap materi.
BAB II
PEMBAHASAN KONSEP DASAR
PENYAKIT URTIKARIA
DEFINISI / PENGERTIAN
Urtikaria adalah
suatu reaksi pada kulit yang timbul mendadak (akut) karena pengeluaran histamin
yang mengakibatkan pelebaran pembuluh darah dan perembesan cairan dari pembuluh
darah.
Urtikaria adalah erupsi
pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih
bila ditekan, dan disertai rasa gatal.
Dalam perjalanan
penyakitnya dikenal 2 macam urtikaria, yaitu :
- urtikaria akut yang timbul mendadak dan hilang dengan cepat serta urtikaria kronis yang timbul berulang-ulang atau berlangsung tiap hari selama lebih dari 6 minggu.
- Urtikaria kronik ditandai dengan bengkak yang edema,
diikuti dengan rasa gatal, papul atau plak pada kulit
EPIDEMOLOGI / INSIDEN KASUS
Urtikaria dapat
terjadi pada semua ras. Kedua jenis kelamin dapat terkena, tapi lebih sering
pada wanita usia pertengahan. Urtikaria kronik idiopatik terjadi 2 kali lebih
sering pada wanita daripada laki-laki.Urtikaria akut lebih sering terjadi pada
anak-anak, sedangkan urtikaria kronik lebih sering terjadi pada usia dewasa.
ETIOLOGI / PENYEBAB
Pada penyelidikan ternyata hampir 80% tidak diketahui
penyebabnya. Diduga penyebab urtikaria bermacam-macam, antara lain :
1. Obat
1. Obat
Bermacam obat dapat menimbulkan urtikaria, baik secara
imunologik maupun non-imunologik. Hampir semua obat sistemik menimbulkan
urtikaria, secara imunologik terdapat 2 tipe, yaitu tipe I atau II. Contohnya
ialah aspirin, obat anti inflamasi non steroid, penisilin, sepalosporin,
diuretik, dan alkohol. Sedangkan obat yang secara non-imunologik langsung
merangsang sel mast untuk melepaskan histamin, misalnya opium dan zat kontras.
Aspirin menimbulkan urtikaria karena menghambat sintesis prostaglandin di asam
arakidonat.
2. Makanan
2. Makanan
Peranan makanan ternyata lebih penting pada urtikaria akut,
umumnya akibat reaksi imunologik, pada beberapa kasus urtikaria terjadi setelah
beberapa jam atau beberapa hari setelah mengkonsumsi makanan tersebut. Makanan
berupa protein atau bahan yang dicampurkan ke dalamnya seperti zat warna,
penyedap rasa, atau bahan pengawet, sering menimbulkan urtikaria alergika.
Makanan yang paling sering menimbulkan urtikaria pada orang dewasa yaitu, ikan,
kerang, udang, telur, kacang, buah beri, coklat, arbei, keju. Sedangkan pada
bayi yang paling sering yaitu, susu dan produk susu, telur, tepung, dan
buah-buah sitrus (jeruk).
3. Gigitan atau sengatan serangga
3. Gigitan atau sengatan serangga
Gigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan urtika
setempat, agaknya hal ini lebih banyak diperantarai oleh IgE (tipe I) dan tipe
seluler (tipe IV). Tetapi venom dan toksin bakteri, biasanya dapat pula
mengaktifkan komplemen. Nyamuk, kepinding, dan serangga lainnya menimbulkan
urtika bentuk papular di sekitar tempat gigitan, biasanya sembuh sendiri
setelah beberapa hari, minggu, atau bulan.
4. Bahan fotosenzitiser
4. Bahan fotosenzitiser
Bahan semacam ini, misalnya griseovulfin, fenotiazin,
sulfonamid, bahan kosmetik, dan sabun germisid sering menimbulkan urtikaria.
5. Inhalan
5. Inhalan
Inhalan berupa serbuk sari bunga (polen), spora jamur, debu,
asap, bulu binatang, dan aerosol, umumnya lebih mudah menimbulkan urtikaria
alergik.
6. Kontaktan
6. Kontaktan
Kontaktan yang sering menimbulkan urtikaria ialah kutu binatang,
serbuk tekstil, air liur binatang, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahan kimia,
misalnya insect repellent (penangkis serangga), dan bahan kosmetik. Keadaan ini
disebabkan bahan tersebut menembus kulit dan menimbulkan urtikaria.
7. Trauma Fisik
7. Trauma Fisik
Trauma fisik dapat diakibatkan oleh
- Faktor dingin, yakni berenang atau memegang benda dingin.
- Faktor panas, misalnya sinar matahari, radiasi, dan panas pembakaran.
- Faktor tekanan, yaitu goresan, pakaian ketat, ikat pinggang, air yang menetes atau semprotan air. Fenomena ini disebut dermografisme atau fenomena darier.
8. Infeksi
- Faktor dingin, yakni berenang atau memegang benda dingin.
- Faktor panas, misalnya sinar matahari, radiasi, dan panas pembakaran.
- Faktor tekanan, yaitu goresan, pakaian ketat, ikat pinggang, air yang menetes atau semprotan air. Fenomena ini disebut dermografisme atau fenomena darier.
8. Infeksi
Bermacam-macam infeksi dapat menimbulkan urtikaria, misalnya
infeksi bakteri, virus, jamur, maupun infeksi parasit.
- Infeksi oleh bakteri contohnya pada infeksi tonsil, infeksi gigi dan sinusitis.
- Infeksi virus hepatitis, mononukleosis dan infeksi virus coxsackie pernah dilaporkan sebagai faktor penyebab. Karena itu pada urtikaria yang idiopatik perlu dipikirkan kemungkinan infeksi virus subklinis.
- Infeksi jamur kandida dan dermatofit sering dilaporkan sebagai penyebab urtikaria. Infeksi cacing pita, cacing tambang, cacing gelang juga Schistosoma atau Echinococcus dapat menyebabkan urtikaria.
- Infeksi oleh bakteri contohnya pada infeksi tonsil, infeksi gigi dan sinusitis.
- Infeksi virus hepatitis, mononukleosis dan infeksi virus coxsackie pernah dilaporkan sebagai faktor penyebab. Karena itu pada urtikaria yang idiopatik perlu dipikirkan kemungkinan infeksi virus subklinis.
- Infeksi jamur kandida dan dermatofit sering dilaporkan sebagai penyebab urtikaria. Infeksi cacing pita, cacing tambang, cacing gelang juga Schistosoma atau Echinococcus dapat menyebabkan urtikaria.
-Infeksi
parasit biasanya paling sering pada daerah beriklim tropis.
9. Psikis
9. Psikis
Tekanan jiwa dapat memacu sel mast atau langsung menyebabkan
peningkatan permeabilitas dan vasodilatasi kapiler. Penyelidikan memperlihatkan
bahwa hipnosis menghambat eritema dan urtika, pada percobaan induksi psikis,
ternyata suhu kulit dan ambang rangsang eritema meningkat.
10. Genetik
10. Genetik
Faktor genetik juga berperan penting pada urtikaria, walaupun
jarang menunjukkan penurunan autosomal dominan.
11. Penyakt sistemik
11. Penyakt sistemik
Beberapa penyakit kolagen dan keganasan dapat menimbulkan
urtikaria, reaksi lebih sering disebabkan reaksi kompleks antigen-antibodi.
Contoh penyakit sistemik yang sering menyebabkan urtikaria yaitu, sistemik
lupus eritematosa (SLE), penyakit serum, hipetiroid, penyakit tiroid autoimun,
karsinoma, limfoma, penyakit rheumatoid arthritis, leukositoklast vaskulitis,
polisitemia vera (urtikaria akne-urtikaria papul melebihi vesikel), demam
reumatik, dan reaksi transfusi darah.
FAKTOR PREDISPOSISI
Urtikaria
terjadi karena vasodilatasi disertai permeabilitas kapiler yang meningkat,
sehingga terjadi transudasi cairan yang mengakibatkan pengumpulan cairan local.
Sehingga secara klinis tampak edema local disertai eritem. Vasodilatasi dan
peningkatan permeabilitas kapiler dapat terjadi akibat pelepasan mediator
misalnya histamine, kinin, serotonin, slow reacting substance of anafilacsis
(SRSA) dan prostaglandin oleh sel mast dan atau basofil.
PATOFISIOLOGI TERJADINYA PENYAKIT
- Pada gangguan urtikaria menunjukkan adanya dilatasi pembuluh darah dermal di bawah kulit dan edema (pembengkakan) dengan sedikit infiltrasi sel perivaskular, di antaranya yang paling dominan adalah eosinofil. Kelainan ini disebabkan oleh mediator yang lepas, terutama histamin, akibat degranulasi sel mast kutan atau subkutan, dan juga leukotrien dapat berperan.
- Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel, terutama eosinofil, keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit lokal. Cairan serta sel yang keluar akan merangsang ujung saraf perifer kulit sehingga timbul rasa gatal. Terjadilah bentol merah yang gatal.
- Bila pembuluh darah
yang terangsang adalah pembuluh darah jaringan subkutan, biasanya jaringan
subkutan longgar, maka edema yang terjadi tidak berbatas tegas dan tidak
gatal karena jaringan subkutan mengandung sedikit ujung saraf perifer,
dinamakan angioedema. Daerah yang terkena biasanya muka (periorbita dan
perioral).
Urtikaria disebabkan karena adanya degranulasi sel mast yang dapat terjadi melalui mekanisme imun atau nonimun. - Degranulasi sel mast dikatakan melalui mekanisme imun bila terdapat antigen (alergen) dengan pembentukan antibodi atau sel yang tersensitisasi. Degranulasi sel mast melalui mekanisme imun dapat melalui reaksi hipersensitivitas tipe I atau melalui aktivasi komplemen jalur klasik.
- Faktor infeksi pada tubuh diantaranya infeksi viru (demam, batuk dan pilek) merupakan faktor pemicu pada urtikaria yang paling sering terjadi namun sering diabaikan
- Beberapa macam obat, makanan, atau zat kimia dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast. Zat ini dinamakan liberator histamin, contohnya kodein, morfin, polimiksin, zat kimia, tiamin, buah murbei, tomat, dan lain-lain. Masih belum jelas mengapa zat tersebut hanya merangsang degranulasi sel mast pada sebagian orang saja, tidak pada semua orang.
- Faktor fisik seperti cahaya (urtikaria solar), dingin (urtikaria dingin), gesekan atau tekanan (dermografisme), panas (urtikaria panas), dan getaran (vibrasi) dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast.
- Latihan jasmani (exercise) pada seseorang dapat pula menimbulkan urtikaria yang dinamakan juga urtikaria kolinergik. Bentuknya khas, kecil-kecil dengan diameter 1-3 mm dan sekitarnya berwarna merah, terdapat di tempat yang berkeringat. Diperkirakan yang memegang peranan adalah asetilkolin yang terbentuk, yang bersifat langsung dapat menginduksi degranulasi sel mast.
- Faktor psikis atau
stres pada seseorang dapat juga menimbulkan urtikaria. Bagaimana
mekanismenya belum jelas.
KLASIFIKASI
Terdapat beberapa
penggolongan urtikaria:
1. Berdasarkan lamanya serangan
berlangsung
- Urtikaria akut,
bila serangan berlangsung kurang dari 6 minggu, atau berlangsung selama 4
minggu tetapi timbul setiap hari.
- Urtikaria kronik, bila serangan lebih dari 6 minggu.
- Urtikaria kronik, bila serangan lebih dari 6 minggu.
2. Berdasarkan morfologi klinis
- Urtikaria papular
bila berbentuk papul.
- Urtikaria gutata bila besarnya sebesar tetesan air.
- Urtikaria girata bila ukuran besar.
- Urtikaria gutata bila besarnya sebesar tetesan air.
- Urtikaria girata bila ukuran besar.
3. Berdasarkan luas dan dalamnya
jaringan terkena
- Urtikaria lokal
- Urtikaria generalisata
- Angioedema
- Urtikaria generalisata
- Angioedema
4. Berdasarkan penyebab dan mekanisme
terjadi urtikaria
- Urtikaria
imunologik
a. Bergantung pada IgE
(reaksi alergik tipe I)
b. Ikut sertanya komplemen
c. Reaksi alergi tipe IV
b. Ikut sertanya komplemen
c. Reaksi alergi tipe IV
- Urtikaria
nonimunologik
a. langsung memacu sel
mas, sehingga terjadi pelepasan mediator. (misalnya obat golongan opiat dan
bahan kontras)
b. Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam arakidonat (misalnya aspirin, obat anti inflamasi non-steroid)
c. Trauma fisik, misalnya dermografisme, rangsangan dingin, panas atau sinar, dan bahan kolinergik.
b. Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam arakidonat (misalnya aspirin, obat anti inflamasi non-steroid)
c. Trauma fisik, misalnya dermografisme, rangsangan dingin, panas atau sinar, dan bahan kolinergik.
- Urtikaria Idiopatik
Urtikaria yang tidak
jelas penyebab dan mekanismenya.
GEJALA KLINIS
- Klinis tampak bentol (plaques edemateus) multipel yang berbatas tegas, berwarna merah dan gatal. Bentol dapat pula berwarna putih di tengah yang dikelilingi warna merah. Warna merah bila ditekan akan memutih. Ukuran tiap lesi bervariasi dari diameter beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk sirkular atau serpiginosa (merambat).
- Tiap lesi akan menghilang setelah 1 sampai 48 jam, tetapi dapat timbul lesi baru.
- Pada dermografisme
lesi sering berbentuk linear, pada urtikaria solar lesi terdapat pada
bagian tubuh yang terbuka. Pada urtikaria dingin dan panas lesi akan
terlihat pada daerah yang terkena dingin atau panas. Lesi urtikaria
kolinergik adalah kecil-kecil dengan diameter 1-3 milimeter dikelilingi
daerah warna merah dan terdapat di daerah yang berkeringat. Secara klinis
urtikaria kadang-kadang disertai angioedema yaitu pembengkakan difus yang
tidak gatal dan tidak pitting dengan predileksi di muka, daerah periorbita
dan perioral, kadang-kadang di genitalia. Kadang-kadang pembengkakan dapat
juga terjadi di faring atau laring sehingga dapat mengancam jiwa.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC / PENUNJANG
A. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah,
urin, feses rutin.
Pemeriksaan darah, urin, feses rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada alat dalam. Pemeriksaan darah rutin bisa bermanfaat untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit penyerta, misalnya urtikaria vaskulitis atau adanya infeksi penyerta. Pemeriksaan-pemeriksaan seperti komplemen, autoantibodi, elektrofloresis serum, faal ginjal, faal hati, faal hati dan urinalisis akan membantu konfirmasi urtikaria vaskulitis. Pemeriksaan C1 inhibitor dan C4 komplemen sangat penting pada kasus angioedema berulang tanpa urtikaria. Cryoglubulin dan cold hemolysin perlu diperiksa pada urtikaria dingin.
Pemeriksaan darah, urin, feses rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada alat dalam. Pemeriksaan darah rutin bisa bermanfaat untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit penyerta, misalnya urtikaria vaskulitis atau adanya infeksi penyerta. Pemeriksaan-pemeriksaan seperti komplemen, autoantibodi, elektrofloresis serum, faal ginjal, faal hati, faal hati dan urinalisis akan membantu konfirmasi urtikaria vaskulitis. Pemeriksaan C1 inhibitor dan C4 komplemen sangat penting pada kasus angioedema berulang tanpa urtikaria. Cryoglubulin dan cold hemolysin perlu diperiksa pada urtikaria dingin.
Tes Alergi
Adanya kecurigaan terhadap alergi dapat dilakukan konfirmasi dengan melakukan tes kulit invivo (skin prick test), pemeriksaan IgE spesifik (radio-allergosorbent test-RASTs) atau invitro yang mempunyai makna yang sama. Pada prinsipnya tes kulit dan RAST, hanya bisa memberikan informasi adanya reaksi hipersensitivitas tipe I. Untuk urtikaria akut, tes-tes alergi mungkin sangat bermanfaat, khususnya bila urtikaria muncul sebagai bagian dari reaksi anafilaksis. Untuk mengetahui adanya faktor vasoaktif seperti histamine-releasing autoantibodies, tes injeksi intradermal menggunakan serum pasien sendiri (autologous serum skin test-ASST) dapat dipakai sebagai tes penyaring yang cukup sederhana.
Adanya kecurigaan terhadap alergi dapat dilakukan konfirmasi dengan melakukan tes kulit invivo (skin prick test), pemeriksaan IgE spesifik (radio-allergosorbent test-RASTs) atau invitro yang mempunyai makna yang sama. Pada prinsipnya tes kulit dan RAST, hanya bisa memberikan informasi adanya reaksi hipersensitivitas tipe I. Untuk urtikaria akut, tes-tes alergi mungkin sangat bermanfaat, khususnya bila urtikaria muncul sebagai bagian dari reaksi anafilaksis. Untuk mengetahui adanya faktor vasoaktif seperti histamine-releasing autoantibodies, tes injeksi intradermal menggunakan serum pasien sendiri (autologous serum skin test-ASST) dapat dipakai sebagai tes penyaring yang cukup sederhana.
Tes Provokasi
Tes provokasi akan sangat membantu diagnosa urtikaria fisik, bila tes-tes alergi memberi hasil yang meragukan atau negatif. Namun demikian, tes provokasi ini dipertimbangkan secara hati-hati untuk menjamin keamanannya. Adanya alergen kontak terhadap karet sarung tangan atau buah-buahan, dapat dilakukan tes pada lengan bawah, pada kasus urtikaria kontak. Tes provokasi oral mungkin diperlukan untuk mengetahui kemungkinan urtikaria akibat obat atau makanan tertentu.
Tes eleminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu mencobanya kembali satu demi satu. Pada urtikaria fisik akibat sinar dapat dilakukan tes foto tempel.
Suntikan mecholyl intradermal dapat digunakan pada diagnosa urtikaria kolinergik.
Tes fisik lainnya bisa dengan es atau air hangat apabila dicurigai adanya alergi pada suhu tertentu
Tes provokasi akan sangat membantu diagnosa urtikaria fisik, bila tes-tes alergi memberi hasil yang meragukan atau negatif. Namun demikian, tes provokasi ini dipertimbangkan secara hati-hati untuk menjamin keamanannya. Adanya alergen kontak terhadap karet sarung tangan atau buah-buahan, dapat dilakukan tes pada lengan bawah, pada kasus urtikaria kontak. Tes provokasi oral mungkin diperlukan untuk mengetahui kemungkinan urtikaria akibat obat atau makanan tertentu.
Tes eleminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu mencobanya kembali satu demi satu. Pada urtikaria fisik akibat sinar dapat dilakukan tes foto tempel.
Suntikan mecholyl intradermal dapat digunakan pada diagnosa urtikaria kolinergik.
Tes fisik lainnya bisa dengan es atau air hangat apabila dicurigai adanya alergi pada suhu tertentu
B. Pemeriksaan Histopatologik
Perubahan
histopatologik tidak terlalu nampak dan tidak selalu diperlukan tetapi dapat
membantu diagnosis (1,2). Epidermis pada umumnya normal. Ikatan-ikatan kolagen
di retikular dermis terpisah oleh edema dan ada infiltrat inflamasi limfositik
perivaskular. Biasanya juga terdapat peningkatan jumlah sel mast.
Infiltrat limfositik
ini biasanya ditemukan pada lesi urtikaria akut dan kronik. Beberapa lesi
urtikaria mengandung infiltrat seluler campuran, antara lain limfosit, PMN, dan
sel inflamasi lainnya. Tipe infiltrat campuran biasanya merupakan karakteristik
dari bentuk refraktur dari urtikaria kronik seperti urtikaria mediasi-autoimun.
Biasanya terdapat
kelainan berupa pelebaran kapiler di papila dermis, geligi epidermis mendatar,
dan serat kolagen membengkak. Pada tingkat permulaan tidak tampak infiltrasi
selular dan pada tingkat lanjut terdapat infiltrasi leukosit, terutama
disekitar pembuluh darah.
Punch biopsy dengan
ukuran 4 mm dapat digunakan membantu diagnosis. Urtikaria dapat juga mencakup
kelainan histopatologis yang luas, mulai infiltrasi berbagai macam sel radang
yang agak jarang dengan edema dermis yang menonjol disertai infiltrasi sel-sel
radang yang relatif banyak. Sel-sel infiltrat tersebut terdiri dari neutrofil,
limfosit dan eosinofil. Adanya infiltrat eosinofil, lebih mengarah pada
urtikaria alergi
PROGNOSIS
Pada umumnya prognosis
urtikaria adalah baik, dapat sembuh spontan atau dengan obat. Tetapi karena urtikaria merupakan bentuk kutan
anafilaksis sistemik, dapat saja terjadi obstruksi jalan nafas karena adanya
edema laring atau jaringan sekitarnya, atau anafilaksis sistemik yang dapat
mengancam jiwa.
Urtikaria akut prognosisnya lebih baik karena penyebabnya cepat
dapat diatasi. Kebanyakan kasus dapat disembuhkan dalam 1-4 hari. Urtikaria
kronik lebih sulit diatasi karena penyebabnya sulit dicari. Hal ini juga
tergantung dari penyebab dari urtikaria itu sendiri.
THERAPY / TINDAKAN PENANGANAN
Terapi terbaik untuk urtikaria adalah mengobati penyebabnya dan
jika memungkinkan menghindari penyebab yang dicurigai.
Obat pertama untuk urtikaria adalah antihistamin antagonis
reseptor H1. Obat ini berfungsi untuk mengurangi rasa gatal, serta memendekkan
durasi terjadinya eritema dan pembengkakan.
Pengobatan dengan antihistamin pada urtikaria sangat bermanfaat.
Cara kerja antihistamin telah diketahui dengan jelas, yaitu menghambat histamin
pada reseptor-reseptornya. Berdasarkan reseptor yang dihambat, antihistamin
dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu antagonis reseptor H1 dan H2. Secara
klinis dasar pengobatan pada urtikaria difokuskan pada efek antagonis terhadap
histamin pada reseptor H1 namun efektivitas tersebut acapkali berkaitan dengan
efek samping farmakologik, yaitu sedasi. Dalam perkembangannya terdapat
antihistamin baru yang berkhasiat terhadap reseptor H1 tetapi nonsedatif,
golongan ini disebut antihistamin nonklasik.
Antihistamin Klasik sebaiknya tidak digunakan sebagai monoterapi
tetapi sebaiknya dikombinasikan dengan antihistamin nonklasik. Biasanya
antihistamin nonklasik diberikan pada siang hari dan klasik antihistamin
diberikan pada malam hari. Antihistamin antagonis reseptor H1 klasik dengan
kerja singkat seperti hidroksizina dihidroklorida, terdapat dalam bentuk tablet
dan sirup diberikan dengan dosis 50-100 mg per hari pada dewasa, sedangkan
untuk anak berumur di bawah 6 tahun dengan dosis 50 mg perhari, anak diatas
umur 6 tahun dengan dosis 50-100 mg per hari dengan dosis terbagi. Penggunaan
obat ini sebaiknya dihindari pada kehamilan trimester pertama. Disamping itu
dapat diberikan antihistamin antagonis reseptor H1 kerja panjang (long acting) seperti
difenhidramina diberikan dengan dosis 25-50 mg perhari dan dosis pada anak 5
mg/kgBB perhari dengan dosis maksimal 300 mg perhari.
PENATALAKSANAAN
- Identifikasi dan pengobatan adalah menghindari factor resiko, ini yang paling penting dan hanya ini yang efektif untuk terapi jangka panjang. Menghindari aspirin atau zat-zat aditif pada makanan, diharapkan dapat memperbaiki kondisi sekitar 50% pasien dengan urtikaria kronik idiopatik
- Pengobatan local
- kompres air es atau mandi air hangat dengan mencampurkan koloid Aveeno oatmeal yang bisa mengurangi gatal.
- Lotion anti pruritus atau emulsi dengan 0,25% menthol bisa membantu dengan atau tanpa 1% fenol dalam lotion Calamine
- Pengobatan sistemik
a. Anti
histamine dengan antagonis H1 adalah terapi pilihan
b. Doxepin,
yaitu anti depresan trisiklik dengan efek antagonis H1 dan H2
c. Kombinasi
antihistamin H1 dan H2, misalnya simetidin
d. Cyproheptadin,
mungkin lebih efektif daripada antihistamin
e. Korticosteroid,
biasanya digunakan untuk mengontrol vascukitis urtikaria.
f. Profilaksis
dengan steroid anabolic, misalnya : danazol, stanozolol
g. Hormon
tyroid juga dilaporkan dapat meringankan urtikaria kronis dan angioderma
h. Terapi
antibiotic juga dilaporkan bisa pada pasien yang terinfeksi Helicobacter pylory
dengan urtikaria kronis
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Urtikaria adalah reaksi vaskuler di kulit akibat faktor
imunologik dan non-imunologik, biasanya ditandai dengan edema setempat yang
timbul mendadak dan menghilang perlahan-lahan. Urtikaria dapat terjadi pada
semua umur. Penyebabnya yaitu faktor imunologik (reaksi hipersensitivitas tipe
I, II, III, IV, dan genetik) dan faktor non-imunologik (bahan kimia pelepas
mediator, faktor fisik, efek kolinergik, alkohol, emosi, demam). Gejala yang
timbul biasanya berupa edema setempat yang eritem, kemudian biasanya disertai
gatal. Pengobatan yang selama ini diberikan sesuai dengan kausa dan diberikan
juga anti histamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar